Bentengi Diri dari Konten Negatif dengan Etis Bermedia Digital
- Mar 06, 2024
- Raden Roro Endah Kusumastuti
Bintang Jaya Itah - Di era sekarang ini, komunikasi global melintasi batas geografis dan batas budaya dengan batasan etika yang berbeda pula. Oleh karena itu, diperlukan empat pilar literasi digital yaitu digital skill, digital culture, digital ethics dan digital safety dalam bermedia digital.
Hal ini dikatakan Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Publik Dinas Kominfo Kota Palangka Raya, Hendra Surya saat menjadi narasumber pada kegiatan Gali Ilmu Literasi Digital di Palangka Raya, Rabu (6/3/2024).
Dikatakannya, etis bermedia digital tentunya sangat penting dimiliki oleh setiap orang, terlebih berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 ada sebanyak 221,56 juta pengguna dan didominasi oleh generasi milenial dari kisaran umur 28 – 43 tahun.
“Etika Digital ini dapat dijadikan sebagai pedoman sikap dan perilaku kita dalam interaksi dan komunikasi global dalam menjaga kualitas hubungan kemanusiaan,” ungkap Hendra.
Lebih lanjut, Hendra menjelaskan etika dalam menggunakan internet harus ditanamkan pada diri setiap orang. Dengan demikian, setiap orang mampu mengakses informasi yang mengandung kebenaran, dapat dipertanggungjawabkan serta menyeleksi dan mengenalisis informasi saat berkomunikasi di platform digital.
“Selanjutnya dapat membentengi diri dari tindakan negatif, memproduksi dan mendistribusikan informasi, dan memverifikasi pesan sesuai standar netiket. Kemudian berpartisipasi membangun relasi sosial, berkolaborasi data dan informasi dengan aman serta nyaman di platform digital,” terang Hendra.
Melawan dan mengatasi konten negatif, menurut Hendra bisa dilakukan dengan mendorong sikap aktif di dunia digital dengan cara memproduksi konten positif sebanyak-banyaknya dan tidak ikut serta meyebarkan konten negatif. Lalu, melatih keterampilan berpikir kritis akan menjadi alat atau perisai untuk menangkal dari berbagai konten negatif.
“Untuk melakukan itu, diperlukan dua sistem berpikir yaitu sistem berpikir cepat untuk melakukan penilaian awal dan kemudian lakukan sistem berpikir lambat (sistem berpikir kritis) dengan melakukan analisis terhadap informasi yang diterima untuk menghindari kesalahan,” pungkasnya.