Jelang Lebaran, Tradisi Nyekar Ramai di Palangka Raya: Doa, Kenangan, dan Rezeki Warga

  • Mar 18, 2026
  • Raden Roro Endah Kusumastuti
  • Perekonomian & Pemberdayaan Masyarakat

Palangka Raya – Menjelang Idulfitri 1447 H, suasana sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kota Palangka Raya mulai dipadati warga. Tradisi ziarah kubur atau nyekar kembali menjadi momen penuh makna bagi masyarakat untuk mengenang sekaligus mendoakan keluarga yang telah berpulang.

Sejak pagi hari, para peziarah silih berganti datang ke pemakaman dengan membawa bunga tabur, air mawar, hingga buku Yasin. Suasana khidmat pun terasa di setiap sudut makam, diiringi lantunan doa dari para pengunjung.

“Ini sudah jadi tradisi keluarga kami setiap menjelang Lebaran. Selain mendoakan, juga mengingatkan kami agar terus berbuat baik selama hidup,” ujar Rahmadi, salah satu warga yang berziarah.

Ramainya peziarah tak hanya menghadirkan suasana haru, tetapi juga membawa berkah bagi pedagang musiman. Di sekitar pintu masuk TPU, penjual bunga tabur dan air mawar tampak sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan.

Harga bunga tabur pun bervariasi, mulai dari Rp6.000 hingga Rp20.000 per kantong, sehingga tetap terjangkau bagi masyarakat. Tak hanya itu, anak-anak dan warga sekitar juga menawarkan jasa membersihkan makam, membantu peziarah yang ingin merapikan pusara keluarga mereka.

Di sisi lain, meningkatnya jumlah pengunjung juga berdampak pada kepadatan kendaraan di area pemakaman. Pengelola TPU pun mengimbau warga untuk parkir secara tertib agar tidak mengganggu akses keluar masuk.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan dengan tidak meninggalkan sampah plastik maupun sisa bunga di area makam.

Tradisi nyekar ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi dan pengingat akan arti kehidupan, sekaligus mempererat nilai kebersamaan di tengah masyarakat menjelang hari kemenangan.