Bentengi Sekolah dari Radikalisme, Disdik Palangka Raya Gandeng Densus 88

  • Jan 22, 2026
  • Raden Roro Endah Kusumastuti
  • Pendidikan & Pengembangan Diri

Palangka Raya – Upaya menjaga sekolah sebagai ruang aman bagi generasi muda terus diperkuat. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya bersinergi dengan Satgaswil Kalimantan Tengah Densus 88 Antiteror Polri menggelar sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), sekaligus bahaya kekerasan dan sadisme, di SMP Negeri 9 Palangka Raya, Rabu (21/1/2026).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat paling steril dari pengaruh destruktif. Menurutnya, ancaman radikalisme kerap tidak terlihat secara kasat mata, sehingga kolaborasi dengan aparat penegak hukum menjadi langkah strategis untuk deteksi dini.

“Sekolah harus menjadi ruang yang aman, penuh kasih, dan damai. Seluruh unsur, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga peserta didik, memiliki peran penting dalam mencegah masuknya paham radikal maupun perilaku sadistis,” tegas Jayani di hadapan para kepala sekolah.

Sosialisasi ini semakin menguat dengan paparan dari Ketua Tim Unit Idensos Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri, Iptu Ganjar Satriyono. Ia mengungkap fakta mengejutkan bahwa penyebaran paham kekerasan kini banyak menyusup melalui media sosial, konten digital, hingga game online yang dekat dengan keseharian anak muda.

Ganjar mencontohkan kasus ledakan bom rakitan di SMA Negeri 72 Jakarta pada 7 November 2025 lalu, yang dilakukan oleh seorang siswa. Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan.

“Pelaku merasa kesepian dan menjadi korban perundungan. Ia kemudian mencari pelarian di komunitas media sosial global yang mengagungkan kekerasan,” ungkapnya.

Ganjar menegaskan, pencegahan radikalisme bukan hanya tugas kepolisian, tetapi tanggung jawab bersama dunia pendidikan dan lingkungan sekitar.

“Anak-anak bukan sasaran ideologi kekerasan. Mereka adalah pemilik harapan dan masa depan bangsa yang harus kita lindungi,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, para kepala sekolah diharapkan dapat memperkuat pengawasan, membangun komunikasi yang lebih hangat dengan siswa, serta memastikan tidak ada anak yang terjerumus ke dalam lingkungan dan komunitas yang keliru.