Perkuat Sinergi Mitigasi Bencana, BPBD Ajak Warga Palangka Raya Lebih Siaga

  • Jan 17, 2026
  • Raden Roro Endah Kusumastuti
  • Informasi & Pelayanan Publik Lokal

Palangka Raya – Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk semakin memperkuat sinergi dalam upaya mitigasi bencana. Ajakan ini menjadi penting mengingat kondisi geografis Palangka Raya yang memiliki potensi risiko bencana alam cukup tinggi.

Sebagai wilayah yang didominasi lahan gambut dan dilalui banyak aliran sungai, Palangka Raya rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau, serta banjir ketika curah hujan meningkat. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan bersama, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga seluruh warga.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, cuaca ekstrem, banjir, dan karhutla menjadi ancaman serius bagi daerah ini.

“Dampak bencana sangat luas, mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan masyarakat, hingga terganggunya aktivitas ekonomi. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini dan melibatkan semua pihak,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Menurut Heri, masyarakat merupakan garda terdepan dalam meminimalisir dampak bencana. Dalam pencegahan karhutla, warga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta aktif melaporkan jika menemukan titik api (hotspot) di lingkungan sekitar.

Sementara itu, untuk mengurangi risiko banjir, kesadaran menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama. Tidak membuang sampah ke sungai, rutin membersihkan drainase, serta bergotong royong menjaga saluran air dinilai mampu menekan potensi luapan air saat hujan deras.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan nyata, Pemerintah Kota Palangka Raya juga terus mendorong pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana). Program ini dirancang untuk membangun ketangguhan masyarakat di tingkat kelurahan melalui sosialisasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan yang melibatkan warga secara langsung.

Tak hanya itu, edukasi kebencanaan sejak dini juga menjadi perhatian. Peran orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan untuk menanamkan budaya sadar bencana kepada anak-anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Mitigasi bencana bukan hanya soal kebijakan atau teknologi, tetapi tentang kepedulian bersama. Sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan sangat diperlukan agar budaya sadar bencana dapat tumbuh secara berkelanjutan,” pungkasnya.